Candra: Buruknya Komunikasi Publik

AROGAN DAN BURUKNYA KOMUNIKASI PUBLIK. 
 
 
 

 


 

ARTOSULAWESI.MY.ID - Sikap arogan dalam ucapan dan tindakan di era saat ini sudah sepatutnya ditinggalkan, karena cepatnya arus informasi berpotensi tersebar secara luas yang berakibat pada kemarahan publik. 

Akhir-akhir ini terdapat beberapa pernyataan pejabat publik yang menuai kritik. Pejabat mengeluarkan pernyataan ambigu, arogan, atau sekadar jauh dari realita masyarakat. Sehingga dampaknya? tidak hanya gaduh sesaat, tetapi menimbulkan efek yang berkelanjutan seperti demontrasi besar besaran.

Sebagai contoh Fenomena tagar #KaburAjaDulu di media sosial, yang berisi ajakan anak muda mencari pekerjaan di luar negeri, sempat viral pada Februari 2025. 

“Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu jangan balik lagi.” ujar mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Immanuel Ebenezer saat dimintai tanggapan mengenai fenomena ini.

Contoh berikutnya Kontroversi pernyataan anggota DPR RI Ahmad Sahroni hanyalah menambah daftar panjang blundernya komunikasi pejabat. Pernyataan itu menuai kritik karena dianggap merendahkan aspirasi rakyat.

Para pemangku kebijakan perlu menyampaikan dengan bahasa sederhana, transparan, dan empatik.

Komunikasi adalah perkara penting, terutama komunikasi publik antara pejabat dengan rakyat. Setiap pilihan kata atau kalimat yang digunakan pejabat mencerminkan isi kepala atau pemikiran yang ia emban.

Pejabat merupakan pihak yang memiliki wewenang mengurus rakyat sehingga seharusnya kalimat-kalimat yang mereka sampaikan memberi ketenangan pada rakyat, menyelesaikan persoalan negara, dan menggambarkan tanggung jawabnya sebagai pihak yang memiliki amanah mengurus rakyat. 

Oleh karenanya, pejabat tidak boleh sekadar bicara. Setiap kalimat yang hendak disampaikan kepada rakyat harus dipikirkan betul-betul dampaknya. Jangan sampai omongan pejabat menyakiti hati rakyat terlebih lagi ditengah sulitnya kehidupan. Demikian, Chandra Purna Irawan
(Ketua LBH PELITA UMAT). (Jamal)

Komentar

Popular Posts All Time