Retorika Tidak Terkendali Donald Trump (Trump’s Unhinged Rhetoric)

Retorika Tidak Terkendali Donald Trump
Retorika Tidak Terkendali Donald Trump


 

 

 

 

 

ARTOSULAWESI.MY.ID - Donald Trump posted an unhinged tirade, stating: “Tuesday will be Power Plant Day, and Bridge Day, all wrapped up in one, in Iran. There will be nothing like it!!! Open the F***n’ Strait, you crazy b***ds, or you’ll be living in Hell - JUST WATCH! Praise be to Allah. President DONALD J. TRUMP.” He previously also threatened that the U.S. would bomb Iran “back to the Stone Age where they belong,” a phrase echoed by Secretary of War Pete Hegseth._

Retorika yang digunakan oleh Donald Trump terhadap Iran mencerminkan pola historis dalam praktik militer Amerika Serikat, di mana demonstrasi kekuatan ekstrem dan ancaman kehancuran total kerap dijadikan instrumen untuk mencapai tujuan politik. Di Irak, Amerika Serikat melancarkan serangkaian kampanye militer yang berdampak luas terhadap infrastruktur sipil, mulai dari Perang Teluk 1991 hingga strategi pemboman Shock and Awe pada tahun 2003, yang diikuti oleh invasi dan pendudukan berkepanjangan. Dampaknya tidak hanya berupa kehancuran fisik kota-kota, tetapi juga runtuhnya sistem sosial termasuk pendidikan, kesehatan, listrik, dan air yang pada akhirnya memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan serta pengungsian dalam skala besar.
Pola serupa juga terlihat dalam konflik di Afghanistan pasca invasi tahun 2001 yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Kampanye militer yang berlangsung lama tersebut ditandai oleh operasi pemboman luas dan penggunaan kekuatan yang kerap menimbulkan korban sipil, serta merusak desa-desa, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Dalam kedua kasus ini, penggunaan kekuatan militer berskala besar menunjukkan kecenderungan untuk mengabaikan dampak kemanusiaan jangka panjang.

Jika ditarik lebih jauh, pola ini memiliki akar historis yang panjang. Pada masa Perang Dunia II, Amerika Serikat melakukan pengeboman masif terhadap kota-kota Jepang seperti Tokyo, Osaka, dan Toyama, yang kemudian diikuti dengan penggunaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, peristiwa yang menewaskan ratusan ribu orang dan menghancurkan pusat-pusat kehidupan sipil dengan dalih mempercepat berakhirnya perang. Di Vietnam, operasi militer seperti Operasi Rolling Thunder mencerminkan strategi pemboman berkelanjutan yang menargetkan infrastruktur dan mengakibatkan korban sipil besar serta kerusakan lingkungan yang luas.

Di luar kawasan tersebut, keterlibatan Amerika Serikat juga tampak dalam berbagai operasi destabilisasi di Amerika Latin, termasuk di Chile dan Guatemala, melalui dukungan terhadap perubahan rezim dan kelompok paramiliter. Pola intervensi ini menunjukkan konsistensi penggunaan kekuatan baik terbuka maupun terselubung sebagai instrumen untuk mempertahankan kepentingan geopolitik, sering kali dengan konsekuensi sosial-ekonomi dan kemanusiaan yang berkepanjangan.

Berbeda dengan periode sebelumnya, di mana intervensi militer kerap dibungkus dengan retorika perlindungan sipil, promosi demokrasi, atau penghapusan tirani, pernyataan terhadap Iran saat ini cenderung lebih terbuka dan tanpa penyamaran. Ungkapan seperti ancaman untuk “membom hingga kembali ke Zaman Batu” tidak lagi berupaya mencari legitimasi moral, melainkan secara eksplisit menampilkan kekerasan sebagai tujuan itu sendiri. Pergeseran ini menunjukkan transformasi dalam narasi kekuasaan, dari justifikasi normatif menuju ekspresi dominasi yang lebih gamblang.

Sebagai penutup, dinamika global saat ini memperlihatkan meningkatnya kerinduan akan suatu tatanan yang tidak bertumpu pada kekuatan koersif atau kepentingan material semata, melainkan pada prinsip keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ketika kekuasaan dipertontonkan melalui ancaman dan destruksi, masyarakat sipil justru menanggung beban terbesar, sekaligus mengharapkan sistem yang menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam hubungan internasional.

Stabilitas sejati dan perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui sistem yang diyakini bersumber dari ketetapan Ilahi

Demikian. Oleh, Chandra Purna Irawan (Ketua LBH PELITA UMAT)

Komentar

Popular Posts All Time