Dibalik Lahirnya PT Pertamina Yang Tidak Pernah Diceritakan, J.M. Pattiasina Menggadaikan Rumah Dan Tanah Pribadi Demi Pertamina
![]() |
| KISAH TERSEMBUNYI DIBALIK LAHIRNYA PT PERTAMINA YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN, J.M. PATTIASINA MENGGADAIKAN RUMAH DAN TANAH PRIBADI DEMI PERTAMINA |
ARTOSULAWESI.MY.ID - Tahun 1957 adalah kelahiran awal PT Pertamina (nama awal Permina), tetapi juga kematian ekonomi kita. Pada 10 Desember, lahirlah PERMINA. Namun, jangan salah, itu hanyalah negara di atas kertas. Belanda pergi membawa otak, meninggalkan besi tua berkarat dan lubang kas yang menganga. Di Sumatera yang bergolak oleh PRRI, Presiden Direktur Ibnu Sutowo tidak mencari birokrat. Ia mencari panglima perang. Pilihannya jatuh pada Brigadir Jenderal J.M. Pattiasina, seorang perwira TNI yang otaknya bukan hanya paham taktik perang, tetapi juga rumus kimia kilang minyak. (Ditulis oleh: Gerard Wakanno)
Mei 1958. Pangkalan Brandan bukan medan perang, melainkan neraka industri. Pattiasina tidak disambut mesin, melainkan oleh tumpukan rongsokan mati. Tantangannya sangat jelas, Menghidupkan detak jantung negeri tanpa setetes uang pun di kantong.
LANTAS, BAGAIMANA CARANYA? JM PATTIASINA MELONTARKAN TIGA PUKULAN KERAS!
Pertama: Kreativitas Menggantikan Uang. Daripada merengek minta alat baru, Pattiasina menyulap rongsokan Belanda dan Jepang menjadi monster produksi. Beliau telah berubah menjadi dokter bedah Mesin.
Kedua: Perang Melawan Penyakit Kronis. Ia sadar, tikus-tikus kecil sedang menggerogoti aset negara. Pipa dan besi dicuri, dijual di pasar gelap. Di sinilah sisi Jenderal Rakyat-nya muncul. Bukan dengan tembok penjara, Pattiasina menyapu pasar dengan pidato membara "Kembalikan besi itu! Itu darah negara, dan kalian adalah bagian dari nadi itu! Ratusan ton material kembali. Ini adalah kemenangan moral sebelum produksi.
Ketiga: Mencetak Kader Bangsa. Pemuda-pemuda desa ia latih menjadi teknisi ulung. Ia bukan hanya membangun, ia membangun peradaban energi Indonesia dari nol.
Namun, puncak ujian belum berhenti, puncaknya adalah pukulan paling telak yang sangat mematikan; KAS NEGARA KERING KERONTANG.
Bayangkan, para pekerja tidak digaji. Bahan bakar untuk mesin habis. Moral ambruk. Di sinilah Sisi Gelap Kepahlawanan Pattiasina terungkap, sebuah rahasia yang selama lebih dari 60 tahun tertimbun oleh rasa malu dan segan untuk di buka ke public.
Di sebuah malam sunyi, di rumah mungilnya, Pattiasina mengambil sertifikat tanah dan rumah pribadinya. Sang Putri, Engelina, menyaksikan dari balik pintu. Suasana hening yang mencekam.
Dengan suara serak namun tegak, Pattiasina berbisik kepada putrinya, kalimat yang seharusnya menjadi semboyan para pemimpin negeri ini: "Engelina, dengarkan. Jika kita mencintai tanah air, kita wajib mengorbankan segala yang kita miliki. Bahkan jika nyawa ini harus melayang, itu adalah ongkos yang murah untuk kemerdekaan sejati. Rumah bisa diganti besok, tetapi martabat bangsa, jika jatuh tidak akan pernah kembali."
Ya, PATTASINA MENGGADAIKAN HARTA KELUARGANYA DEMI UNTUK KEPENTINGAN NEGARA. Inilah suntikan dana darurat pertama dari kantong pribadi seorang Jenderal!.
Namun darah pribadi belum cukup. Pattiasina harus bermain di panggung internasional. Bersama sahabatnya, Tong Djoe, ia terbang ke Singapura. Di sebuah kafe sederhana dekat Orchard Road, seorang Jenderal TNI duduk dengan rendah hati di hadapan taipan-taipan asing. Ia memesan segelas lemonade, minuman langka dan mewah saat itu, sementara menawarkan jiwa bangsanya sebagai jaminan. Engelina kecil duduk di sudut ruangan diwarung sebelahnya dengan didampingi oleh Tong Djoe sahabat JM Pattiasina yang telah memperkenalkan para taipan Singapura tersebut. Engline menyaksikan martabat sang ayah ditawar demi meminjam modal. Rasa asam manis lemonade itu menjadi saksi, Inilah harga yang harus dibayar ketika pemimpin lebih memilih berutang ke luar negeri daripada mengganggu kas rakyat. Lobi berdarah itu berhasil. Dana cair.
24 MEI 1958: TITIK BALIK SEJARAH
Mesin-mesin di Pangkalan Brandan mengaum. Kilang yang mati suri itu meletuskan produksi perdana. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia mengirimkan minyak mentah hasil keringat sendiri ke pasar dunia. Dolar asing mengalir, menyelamatkan ekonomi bangsa yang nyaris kolaps. Itu adalah Proklamasi Ekonomi bangsa ini.
Pattiasina mengubur kisah ini dalam-dalam. Ia takut pengorbanannya dicibir sebagai cari panggung. Ia mati diam, tanpa pernah meminta ganti rugi satu rupiah pun.
Hari ini, saat kita duduk manis menikmati BBM, saat para pejabat bergaya di mobil mewah, tanyakan pada diri kita, KEMANA PERGINYA DARAH PERJUANGAN PATTIASINA?.
Di usia 81 tahun kemerdekaan ini, aset-aset Pertamina yang dibangun dengan air mata dan gadai tanah itu harusnya menjadi Benteng Kekayaan Bangsa. Pattiasina merelakan atap rumahnya, agar negara berdiri kokoh. Hari ini, jangan biarkan para perampok negara merobohkan atap itu lagi!
Sudah saatnya kita, generasi emas, menyalakan api semangat itu lagi. Korupsi adalah musuh bersama yang lebih keji dari penjajah! Mari sambut HUT ke-81 ini dengan tekad, Kembalikan martabat Pertamina, pulihkan harga diri bangsa!. Merdeka!. (Andreas andri)





Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas kunjungan Anda